Harga Emas Melambung, Penambang Dumoga Barat Masih Bernegosiasi dengan Nasib

- Jurnalis

Selasa, 24 Februari 2026 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lonjakan harga emas hingga Rp3.068.000 per gram justru tidak sepenuhnya dirasakan para penambang kecil di Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow. Di tengah euforia harga tinggi, transaksi di tingkat lokal dilaporkan tersendat karena sejumlah pembeli mengaku kekurangan modal.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan penambang rakyat. Sebab, secara logika pasar, kenaikan harga global semestinya diikuti perputaran uang yang lebih cepat di tingkat bawah. Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya: emas ada, harga tinggi, tetapi pembelian melambat.

Dumoga Barat dan Denyut Tambang di Wilayah Dumoga Raya

Kecamatan Dumoga Barat merupakan salah satu titik aktivitas tambang rakyat paling aktif di wilayah Dumoga Raya. Kawasan ini dikenal sebagai sentra produksi emas tradisional di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Sebagai bagian dari bentang Dumoga Raya, Dumoga Barat selama ini menjadi tumpuan ekonomi ratusan bahkan ribuan warga yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan rakyat. Dari penggali, pengolah material, hingga pedagang emas lokal, rantai ekonomi tambang membentuk ekosistem tersendiri.

Baca Juga :  Pungguan : Tradisi Ziarah Kubur Perekat Ukhuwah Insaniyah

Ketika harga emas melonjak, harapan akan peningkatan pendapatan langsung menguat. Namun sejumlah penambang di Dumoga Barat justru mengaku kesulitan menjual hasilnya dengan harga maksimal. Beberapa pembeli disebut menahan transaksi atau membeli dalam jumlah terbatas dengan alasan keterbatasan dana.

Situasi ini memunculkan kecurigaan.  Apakah ini murni persoalan likuiditas? Ataukah ada pola permainan harga yang sengaja ditekan di tingkat penambang kecil?

Ketimpangan Informasi dan Modal

Struktur pasar emas rakyat umumnya bertumpu pada pembeli pengumpul. Penambang kecil jarang memiliki akses langsung ke pasar besar atau jalur distribusi yang lebih luas. Ketergantungan ini menciptakan posisi tawar yang lemah.

Harga global bisa saja meroket, tetapi harga di tingkat tambang tetap ditentukan oleh segelintir pembeli lokal. Dalam kondisi seperti ini, alasan “tidak ada uang” berpotensi menjadi alat negosiasi untuk menekan harga beli.

Padahal, risiko terbesar justru ditanggung penambang. Mereka bekerja di lokasi dengan tingkat keselamatan terbatas, biaya operasional terus berjalan, dan kebutuhan hidup tidak bisa ditunda.

Baca Juga :  Dua Peserta Bersaing Ketat, Seleksi Kasi Kesejahteraan Doloduo Tiga Berakhir Sukses

Ketika pembeli menahan uang, beban langsung jatuh ke pekerja tambang. Dumoga Raya, yang dikenal sebagai wilayah tambang terbesar di Bolaang Mongondow, menyimpan paradoks: sumber daya melimpah, tetapi kesejahteraan penambang masih fluktuatif mengikuti permainan pasar.

Perlu Transparansi dan Penguatan Posisi Penambang

Kondisi di penambang hari ini menjadi cermin persoalan yang lebih luas. Transparansi harga dan akses pasar yang lebih terbuka dibutuhkan agar penambang tidak terus berada dalam posisi tertekan.

Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan didorong untuk melihat fenomena ini secara serius. Skema koperasi tambang, penguatan legalitas tambang rakyat, hingga akses pembiayaan alternatif bisa menjadi solusi jangka panjang.

Hari ini harga emas boleh mencetak rekor. Namun tanpa sistem yang adil, angka tinggi itu hanya akan menjadi statistik, bukan kesejahteraan nyata bagi penambang kecil di Dumoga Barat.

 

Penulis : Chandra Mokoagow

Berita Terkait

Pungguan : Tradisi Ziarah Kubur Perekat Ukhuwah Insaniyah
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 24 Februari 2026 - 20:57 WIB

Harga Emas Melambung, Penambang Dumoga Barat Masih Bernegosiasi dengan Nasib

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:52 WIB

Pungguan : Tradisi Ziarah Kubur Perekat Ukhuwah Insaniyah

Berita Terbaru