Puasa Ramadhan 2026, Prediksi NU dan Muhammadiyah Berbeda

- Jurnalis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terastoday.id- Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, perbincangan soal kapan umat Islam di Indonesia akan memulai puasa kembali mengemuka. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kembali menjadi perhatian publik.

Berdasarkan perhitungan kalender Islam 2026, terdapat potensi perbedaan awal Ramadhan yang dipengaruhi oleh pendekatan hisab dan rukyat yang dianut masing-masing organisasi keagamaan tersebut.

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 18 Februari 2026

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipadukan dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah memutuskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini dilakukan melalui perhitungan astronomis yang memastikan terjadinya ijtimak pada Selasa, 17 Februari 2026. Meski secara visual hilal belum tentu terlihat, Muhammadiyah berpegang pada prinsip bahwa keberadaan hilal secara hisab sudah cukup sebagai dasar penetapan awal bulan.

Baca Juga :  Negara Ubah Total Rekrutmen ASN Pendidikan, PPPK Guru dan Dosen Dihapus

Dengan ketetapan tersebut, Muhammadiyah juga memprediksi Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, dengan asumsi Ramadhan berlangsung selama 30 hari.

NU Menunggu Rukyatul Hilal dan Sidang Isbat

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini belum menetapkan tanggal resmi awal Ramadhan 2026. NU tetap berpegang pada metode hisab imkanur rukyat yang dikombinasikan dengan rukyatul hilal atau pengamatan langsung bulan sabit di akhir bulan Syakban.

PBNU akan melakukan rukyatul hilal pada malam 29 Syakban 1447 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Hasil pengamatan tersebut akan menjadi dasar utama penentuan awal Ramadhan.

Baca Juga :  Tak Ada Lagi Honorer Mulai 2026, Ini Peluang PPPK Kemenkumham

Jika hilal berhasil terlihat, maka 1 Ramadhan berpotensi jatuh pada 18 Februari 2026. Namun jika hilal tidak terlihat, bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal puasa kemungkinan bergeser ke Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan NU umumnya sejalan dengan hasil sidang isbat Kementerian Agama RI, yang menjadi rujukan resmi pemerintah.

Perbedaan Metode, Bukan Perbedaan Tujuan

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dalam penentuan awal Ramadhan merupakan konsekuensi dari perbedaan metodologi keilmuan dan pendekatan fiqih.

Muhammadiyah menekankan kepastian hisab astronomis, sementara NU menempatkan rukyat sebagai penentu akhir setelah perhitungan hisab dilakukan.

Perbedaan ini bukan hal baru dan telah berlangsung puluhan tahun. Meski demikian, umat Islam di Indonesia relatif dewasa menyikapinya, dengan tetap menjaga toleransi dan saling menghormati pilihan masing-masing

Berita Terkait

Tak Ada Lagi Honorer Mulai 2026, Ini Peluang PPPK Kemenkumham
Negara Ubah Total Rekrutmen ASN Pendidikan, PPPK Guru dan Dosen Dihapus
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Januari 2026 - 22:02 WIB

Tak Ada Lagi Honorer Mulai 2026, Ini Peluang PPPK Kemenkumham

Senin, 12 Januari 2026 - 21:48 WIB

Negara Ubah Total Rekrutmen ASN Pendidikan, PPPK Guru dan Dosen Dihapus

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:54 WIB

Puasa Ramadhan 2026, Prediksi NU dan Muhammadiyah Berbeda

Berita Terbaru